Materi Akidah Akhlak Tentang Fitnah |pengertian|motivasi|menghindari perilaku fitnah - Denfol
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Materi Akidah Akhlak Tentang Fitnah |pengertian|motivasi|menghindari perilaku fitnah

A). Pengertian Fitnah

Fitnah dalam bahasa Arab memiliki beberapa arti, di dalam Al-Quran sendiri fitnah dapat diartikan sebagai kufur, dan jatuh di dalam hal yang tidak di inginkan.

Sedangkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perkataan yang bermaksud menjelekkan orang lain.

BACA JUGA : MATERI AKIDAH AKHLAK TENTANG NAMINAH

Kata Fitnah yang dimaksudkan di sini tentu saja maksudnya adalah perkataan (tanpa dasar) yang dilancarkan untuk menjatuhkan atau merendahkan martabat seseorang, fitnah berintikan kebohongan yang diciptakan untuk membunuh karakter (Character Assassination) seseorang karena ada sebab-sebab tertentu.

Dalam pandangan Yusuf Al Qaradhawi pelaku fitnah adalah orang-orang yang menyiksa umat Islam serta menyakiti para dainya, pelaku fitnah juga adalah orang-orang yang menyusupkan keyakinan-keyakinan yang sesat, prinsip-prinsip yang merusak kepada agama.

B). Motivasi Melakukan Fitnah

1). Mencari Harta Duniawi

Motivasi seseorang melakukan perbuatan fitnah di antaranya karena dengan memfitnah ia berharap mendapatkan uang.

Jadi imbalan harta itulah yang menjadikan seseorang melakukan perbuatan fitnah, Rasulullah Saw tidak menyukai perbuatan fitnah yang memiliki motivasi harta dan mengancam pelakunya.

Dari Hudzaifah R.A. berkata, Rasulullah Saw bersabda:

Bergegaslah (menghindari)perbuatan-perbuatan fitnah seperti memutus malam yang gelap. Di pagi hari seseorang beriman dan di sore hari menjadi kafir atau di sore hari beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan harta dunia”(HR. Bukhari-Muslim)

2). Menjerumuskan Orang ke dalam neraka

Seseorang termotivasi melakukan fitnah karena ia ingin banyak orang tersesat dan terperangkap ke dalam pusaran fitnah dan pada akhirnya akan masuk ke dalam neraka.

Dahulu, Rasulullah Saw memiliki spionase yang bernama Hudzaifah bin al-Yaman yang diberikan tugas untuk mengawasi perbuatan fitnah yang dilakukan oleh orang-orang munafik.

BACA JUGA : MATERI LENGKAP AKIDAH AKHLAK TENTANG GHIBAH

Suatu hari Hudzaifah berkata:

“Banyak sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw mengenai hal-hal yang baik, sementara aku bertanya mengenai hal-hal yang buruk karena aku takut akan menjumpai hal-hal tersebut."

  • Ia berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw: Sesungguhnya kita sedang berada di masa jahiliah yang identik dengan keburukan. Allah SWT telah mendatangkan kebaikan kepada kita, maka apakah setelah kebaikan ini datang lalu muncul keburukan ?"
  • Rasulullah Saw berkata: "Ya!"
  • Aku berkata: "Apakah setelah keburukan itu muncul lalu datang kebaikan kembali ?"
  • Rasulullah Saw menjawab: "Yah dan di dalamnya terdapat keburukan."
  • Aku bertanya: "Apakah bentuk keburukan tersebut ?"
  • Rasulullah Saw menjawab: "Suatu kaum menjalankan sesuatu bukan dari sunahku dan mencari petunjuk bukan berdasarkan petunjuk dariku kenali mereka dan ingkar."
  • Aku bertanya kembali : "Lalu apakah setelah datangnya kebaikan ini akan datang keburukan lainnya ?"
  • Rasulullah Saw bersabda: "Para penyeru kepada neraka Jahanam dan barang siapa yang mengikutinya, maka ia akan terlempar ke dalamnya."
  • Aku berkata : "Wahai Rasulullah Saw beritahukan kami sifat mereka."

Rasulullah Saw bersabda :

"Mereka memiliki kulit seperti kita dan berbicara sama dengan lisan kita”.(HR. Bukhar-Muslim).

3). Mencari Jabatan atau posisi tertentu

Seseorang berbuat fitnah terkadang termotivasi untuk mencari Kedudukan atau jabatan tertentu baik di masyarakat, lembaga, instansi atau di tempat-tempat lainnya.

Oleh karena itu Al Quran mengingatkan kepada kita agar waspada terhadap perilaku-perilaku orang-orang yang zalim yang menyebarkan fitnah dalam rangka mencari jabatan atau posisi tertentu.

C). Menghindari Perilaku Fitnah

  • Pertama, Mengkaji dan Mempelajari Al-Qur’an.

Untuk mengantisipasi terjadinya fitnah sebaiknya seseorang banyak membaca dan mengkaji Al Quran, Al-Qur’an adalah pedoman yang dititipkan oleh Rasulullah Saw kepada umatnya saat menjelang wafat.

BACA JUGA : PENGERTIAN|CIRI CIRI|NILAI NILAI TOLERANSI

Selain itu di dalam al Quran banyak kisah yang mengemukakan tentang perbuatan fitnah yang dapat dijadikan pelajaran bagi umat Islam agar terhindar darinya.

Antisipasi ini pernah ditanyakan oleh Sahabat Ali kepada Rasulullah Saw.

*Suatu hari Sayyidina Ali bertanya kepada Rasulullah Saw mengenai antisipasi dari perbuatan fitnah.

  • Rasulullah Saw bersabda : ”Akan ada fitnah setelahku seperti memutus malam yang gelap gulita."
  • Aku bertanya : "Bagaimana jalan keluarnya wahai Rasulullah Saw ?"
  • Rasulullah Saw bersabda :

"Kitabullah (al- Qur’an) karena di dalamnya terdapat berita mengenai (orang-orang) sebelum kalian dan berita mengenai (orang-orang) setelah kalian. Al-Quran adalah hakim bagi kalian, yang memutuskan (perkara) yang tidak main-main. Siapa pun penguasa yang meninggalkannya, maka Allah Swt menghancurkannya. Barang siapa yang mencari petunjuk kepada selain al-Qur’an, maka Allah Swt menyesatkannya. Al-Quran adalah tali Allah SWT yang kuat, Pengingat yang bijaksana dan jalan yang lurus. Ia tidak dapat disesatkan oleh hawa nafsu, tidak terperangkap dengan ucapan, tidak memiliki berbagai macam pandangan, para ulama tidak merasa kenyang, orang yang bertakwa tidak pernah bosan dengannya. Al-Quran tidak diciptakan dengan banyak penolakan dan tidak pernah habis keajaibannya. Al-Quran adalah kitab suci di mana makhluk Allah jin apabila mendengarnya berkata: “Kami mendengar al-Quran yang menakjubkan”. Barang siapa yang mengajarkan ilmu al-Quran, maka ia menang, barang siapa yang berkata dengannya, maka ia pasti benar dan barang siapa yang berhukum dengannya, maka ia berlaku adil dan barang siapa mengamalkannya, maka ia mendapatkan pahala dan barang siapa mengajak kepadanya, maka ia mendapat petunjuk menuju jalan yang lurus” (HR. al-Tirmidzi)

  • Kedua, Meningkatkan Keimanan

Keimanan yang Kokoh memiliki pengaruh besar dan memiliki peran vital dalam menghadapi, mengatasi dan menyikapi berbagai peristiwa serta ujian yang menimpa manusia.

  • Ketiga, Berdoa

Agar terhindar dari hal yang membahayakan diri orang beriman yang memahami hakikat kehidupan yang sebenarnya belum tentu telah aman dari bahaya fitnah karena Setan dan sekutunya menggoda mereka sehingga orang yang beriman kelak akan lalai, jatuh dan terperosok ke dalam fitnah dunia.

Post a Comment for "Materi Akidah Akhlak Tentang Fitnah |pengertian|motivasi|menghindari perilaku fitnah"