Pengertian Aliran Maturidiyah - Denfol
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Aliran Maturidiyah






Aliran Maturidiyah

Pengertian Aliran Maturidiyah

 a. Pengertian

Aliran Maturidiyah adalah aliran pemikiran kalam yang berpegang pada keputusan akal pikiran dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan syara’, sebaliknya jika hal itu bertentangan dengan syara’, maka akal harus tunduk kepada keputusan syara’.

BACA JUGA : PENGERTIAN DAN DOKTRIN AJARAN ALIRAN MURJI'AH

Abu Mansur Al Maturidi mendasarkan pikiran-pikiran dalam soal-soal kepercayaan kepada pikiran-pikiran Imam Abu Hanifah yang tercantum dalam kitabnya ϔiqh-ul Akbardan, ϔiqh-ul Absath dan memberikan ulasan-ulasannya terhadap kedua kitab-kitab tersebut.

Maturidiyah lebih mendekati golongan Muktazillah

Prinsip - Prinsip pendiri aliran Maturidiyah mengenai penafsiran Al-Qur'an adalah wajib melakukan penalaran akal dengan disertai bantuan nash di dalam penafsiran Al-Qur’an.

Dalam menafsirkan Al-Qur'an, Abu Mansur Al Maturidi membawa ayat-ayat yang Mu-tasyabih (samar maknanya) pada makna yang Muhkam (terang dan jelas pengertiannya).

Ia menta’wilkan yang mu-tasyabih yang bersumber dari pengertian yang ditunjukkan oleh yang muhkam, jika seorang mukmin tidak memiliki suatu bakat atau kemampuan untuk menta’wilkannya, maka bersikap menyerah adalah lebih selamat.

Aliran Maturidiyah pertama kali muncul di Samarkand, pertengahan kedua dari abad IX M, Yang didirikan oleh  Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Al Maturidi, di daerah Maturid Samarqand, untuk melawan mazhab Mu`tazilah.

Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) menganut mazhab Abu Hanifah dalam masalah ϐikih.

BACA JUGA : PENGERTIAN AKIDAH-DALIL

Oleh sebab itu, kebanyakan pengikutnya juga bermazhab Hanaϐi.

Al Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio, hal ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-Maturidi sebagai pengikat Abu Hanifa, dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap mu’tazilah.

Dalam Ensiklopedia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve, disebutkan, pada pertengahan Abad ke-3 H terjadi pertentangan yang hebat antara golongan Muktazilah dan para ulama.

Sebab, pendapat Muktazilah dianggap menyesatkan umat Islam. Al-Maturidi yang hidup pada masa itu melibatkan diri dalam pertentangan tersebut dengan mengajukan pemikirannya.

Pemikiran-pemikiran Al-Maturidi dinilai bertujuan untuk membendung tidak hanya paham Muktazilah, tetapi juga aliran Asy’ariyah.

BACA JUGA : MATERI FIKIH LENGKAP TENTANG KHALIFAH

Banyak kalangan yang menilai, pemikirannya itu merupakan jalan tengah antara aliran Muktazilah dan Asy’ariyah. Oleh karena itu, aliran Maturidiyah sering juga disebut “berada antara teolog Muktazilah dan Asy’ariyah”. Tetapi, keduanya (Maturidi dan Asy’ari) secara tegas menentang aliran Muktazilah.

B. Doktrin Ajaran 

1) Akal dan Wahyu

Al Maturidi dalam pemikiran teologinya bersumber pada Al-Qur'an dan akal, akal atau pemikiran banyak digunakan di antaranya sebab dipengaruhi oleh Mazhab Imam Abu Hanifah.

Menurut Al-Maturidi, mengetahui Allah dan kewajiban mengetahui Allah dapat diketahui dengan akal. 

Jika akal tidak memiliki kemampuan tersebut, maka tentunya Allah tidak akan memerintahkan manusia untuk melakukannya, orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti ia telah meninggalkan kewajiban yang diperintahkan Allah.

2) Perbuatan Manusia

Perbuatan Manusia adalah ciptaan Allah, karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaan-Nya. 

Tentang perbuatan manusia, keadilan dan kebijaksanaan atas kehendak Allah mewajibkan manusia agar mempunyai kemampuan untuk berbuat (ikhtiar) agar kewajiban yang dibebankan kepadanya dapat ia laksanakan.

Dengan hal ini Al Maturidi mempertemukan antara ikhtiar manusia dengan qudrat Allah sebagai pencipta perbuatan manusia. Allah mencipta daya (kasb) dalam setiap diri manusia dan manusia bebas memakainya, dengan demikian tidak ada pertentangan sama sekali antara qudrat Allah dan ikhtiar manusia.

3) Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan

Allah memiliki kehendak dalam sesuatu yang baik atau buruk, tetapi pernyataan ini tidak bermaksud bahwa Allah berbuat dengan sewenang-wenang nya saja, tetapi perbuatan dan kehendak-Nya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya dengan sendirinya.

4) Sifat Tuhan

Sifat-sifat Allah itu mulzamah (ada bersama) dzat tanpa terpisah (innaha lam takun ain adz-dzāt wa lā hiya ghairuhū).

BACA JUGA : PERBANDINGAN PEMIKIRAN ALIRAN KALAM

Sifat tidak berwujud tersendiri dari dzat, sehingga berbilangnya suatu sifat yang tidak akan membawa kepada subilanganDzat Allah.

5) Melihat Tuhan

Pendapat Al-Maturidi, manusia bisa melihat Tuhan, sebagaimana ϐirman Allah QS. Al-Qiyamah: 22-23.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Tuhan kelak di akhirat dapat dilihat dengan mata, karena Tuhan mempunyai wujud walaupun ia Immaterial

Namun melihat Tuhan, kelak di akhirat tidak dalam bentuknya, karena keadaan di sana beda dengan dunia.

6) Kalam Tuhan

Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kalām nafsī (sabda yang sebenarnya atau makna abstrak). 

Kalām nafsī ialah sifat qadim bagi Allah, dan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baru (hadits), kalām nafsī tidak dapat kita ketahui hakikatnya dari bagaimana Allah bersifat dengannya, kecuali dengan suatu perantara.

Maturidiyah menerima pendapat Mu’tazilah mengenai Al-Qur'an sebagai makhluk Allah, tapi Al-Maturidi lebih suka menyebutnya hadis sebagai pengganti makhluk untuk sebutan Al-Qur'an.

7) Perbuatan Tuhan

Segala sesuatu hal terjadi dengan kehendak-Nya, dan tidak ada yang memaksa atau membatasi Kehendak Tuhan, kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri.

BACA JUGA : MENELADANI SIFAT IBNU RUSYD DAN MUHAMMAD IQBAL

Setiap Perbuatan-Nya yang bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia tidak lepas dari hikmah dan keadilan yang dikehendaki-Nya. 

Tuhan tidak akan membebankan kewajiban di luar kemampuan manusia, karena hal tersebut tidak sesuai dengan keadilan, dan manusia diberikan kebebasan oleh Allah dalam kemampuan dan perbuatannya, Hukuman atau ancaman dan janji terjadi karena merupakan tuntutan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya.

8) Pengutusan Rasul

Pengutusan Rasul memiliki tujuan sebagai sumber informasi, tanpa mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan oleh rasul berarti manusia telah membebankan sesuatu yang berada di luar kemampuan akalnya.

Pandangan ini tidak jauh dengan pandangan Mu’tazilah, yakni bahwa pengutusan rasul kepada umat adalah kewajiban Tuhan agar manusia bisa berbuat baik bahkan terbaik dalam hidupnya.

9) Pelaku Dosa Besar

Al Maturidi berpendapat bahwa Pelaku Dosa Besar tidak kaϐir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat.

Hal ini karena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai apa yang ia perbuat. Kekal di dalam neraka adalah balasan untuk orang musyrik. 

10) Iman

Menurut Al Maturidi, Iman itu cukup dengan membenarkan (tashdiq) dan dinyatakan (iqrar), sedangkan amal adalah penyempurnaan iman, Oleh karena itu amal tidak menambah atau mengurangi esensi iman, hanya menambah atau mengurangi sifatnya. 

BACA JUGA : PENGERTIAN DAN MAKNA JIHAD

Dalam masalah iman, aliran Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa iman adalah tashdiq bi al qalb, bukan semata iqrar bi al-lisan.:

Post a Comment for "Pengertian Aliran Maturidiyah"